Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Januari 2013

Identitas "The Hobbit" Terungkap

Temuan tulang baru mengungkap karakteristik manusia Flores (Homo floresiensis) atau yang sering disebut The Hobbit. Ilmuwan mengetahui bagaimana rupa spesies manusia ini, perilaku serta asal-usulnya.

Identitas "The Hobbit" Terungkap - http://lintasjagat.blogspot.com/ Susan Haves/University of Wollongong Rekosntruksi wajah manusia Flores atau The Hobbit.

Tulang terbaru yang ditemukan adalah tulang pergelangan tangan. Karena karakteristiknya yang identik dengan tulang yang pernah ditemukan sebelumnya, temuan ini sekaligus membantah pendapat bahwa manusia Flores tak pernah eksis.

"Orang kerdil dari Flores ini bukan semata-mata orang dengan penyakit," kata Caley Orr, pimpinan dalam studi ini, seperti dikutip Discovery, Kamis (10/1/2013).

Orr mengatakan, spesies manusia ini memiliki tinggi 3 kaki 6 inchi. Kekerdilannya membuatnya dijuluki The Hobbit. Spesies ini memiliki banyak kesamaan dengan manusia modern (Homo sapiens), seperti berjalan dengan dua kaki, punya geraham kecil dan hidup seperti manusia gua.

"Alat batu dan bukti penggunaan api ditemukan di gua, bersama dengan sisa-sisa hewan yang dipotong, seperti Stegodon (spesies gajah yang telah punah), menunjukkan bahwa daging adalah bagian dari menu makanan mereka," papar Orr.

Lewat identifikasi, Orr dan rekannya juga menemukan beberapa perbedaan antara manusia Flores dan manusia modern.

Lengan Hobbit lebih panjang dari kakinya, membuatnya tampak seperti monyet. Tengkoraknya tak memiliki tulang dagu sehingga wajahnya cenderung oval. Bagian dahinya miring. Volume otaknya kecil sehingga kecerdasannya lebih dekat dengan simpanse.

Berdasarkan tulang pergelangan tangannya, manusia Flores mirip dengan Austropithecus. Namun, kini kandidat utama moyang mereka adalah Homo erectus. Orr mengatakan, mungkin ada Homo erectus yang terdampar, menempati lingkungan kecil, lalu mengerdil. Hal ini masih perlu diteliti.

"Fosil ini menujukkan lebih jauh, bukti nyata bahwa H. floresiensis bukan manusia modern yang memiliki penyakit atau morfologinya terkait dengan badan kecil. Ini menunjukkan bahwa mereka spesies yang unik dan menarik," kata Tracy Kivell, palaeoantropolog dari Max Planck Institute of Evolutionary Anthropology.

Dari temuan ini, tim mengetahui bahwa meski tulang pergelangan tangan spesies ini lebih primitif, mereka tetap mampu membuat peralatan. Hasil penelitian dipublikasikan di Journal of Human Evolution.

Rabu, 21 November 2012

5 Gua Suci Paling Terkenal Didunia

5 Gua Suci Paling Terkenal Didunia - Melewati malam 1 Muharam atau disebut juga dengan malam 1 Suro dalam tradisi Jawa biasa dilewati oleh orang-orang berilmu dengan melakukan berbagai tradisi, seperti memandikan keris, puasa, atau bertapa. Dan biasanya, mereka melakukannya ditempat-tempat yang sepi serta tenang. Gua pun kerap menjadi pilihan para orang pinter untuk melakukan tradisi mereka tersebut. Nah ngomong-ngomong soal gua, LB punya list gua-gua yang dianggap suci dan terkenal di dunia. Penasaran?? Berikut adalah gua-nya:

1. Actun Tunichil Muknal, Belize




Gua ini terdapat di Belize, sebuah negara kecil di pesisir timur Amerika Tengah, berbatasan dengan Meksiko di sebelah barat laut dan Guatemala di barat dan selatan. Akses ke situs Maya ini melibatkan kegiatan-kegiatan menarik, seperti hiking hingga bermain air dan juga berenang. Namun hampir satu mil (1,6 kilometer) dari lintasan ini terdapat tempat peristirahatan “gadis kristal”.

2. Gua Elephanta, India

Gua ini dipahat di lereng bukit di Pulau Gharapuri pada abad kelima. Di sini Anda bisa mendengarkan dengungan instrumen India kuno.

3. Gua Longmen, China

Gua ini berada di lereng bukit Xiangshan dan Longmen Shan dan di atas Sungai Yi. Longmen atau “Gerbang Dragon” adalah kompleks gua Budha yang dibuat sejak Dinasti Wei Utara (AD 493). Gua ini terdiri dari 2.345 gua dan ceruk, 2.800 prasasti serta 43 pagoda.

4. Gua Dambulla, Sri Lanka

Dari India Anda bisa melanjutkan perjalanan lagi ke Sri Lanka untuk berkunjung ke kompleks gua Budha Dambulla. Ada banyak patung dan mural langit-langit di dinding batu yang masih kasar.

5. Gua Corycian, Yunani


Menurut kepercayaan Yunani kuno, gua besar di Gunung Parnassus ini adalah tempat pemujaan dewa Pan dan Nimfa. Di dekat pintu masuk Corycian terdapat satu buah batu yang kemungkinan besar digunakan sebagai altar.

Jumat, 10 Agustus 2012

Kisah Dua Presiden Indonesia Yang Terlupakan

Gambar : Sjraifudin Prawiranegara dan Mr. AssaatGambar : Sjraifudin Prawiranegara dan Mr. Assaat
Gambar : Sjraifudin Prawiranegara dan Mr. Assaat

Kisah Dua Presiden Indonesia Yang Terlupakan - Di dalam perjalanannya, sejarah mencatat, bahwa Indonesia dipimpin oleh seorang kepala negara yang menjalankan pemerintahan, yaitu presiden. Ada 6 nama presiden yang umum diketahui selama ini sebagai pemimpin pemerintahan NKRI. Mereka, adalah :

1. Soekarno (1945-1966)

2. Soeharto (1966-1998)

3. BJ. Habibie (1998-1999)

4. Abdurahman Wahid (1999-2001)

5. Megawati Sukarnoputri (2001-2004)

6. Susilo Bambang Yudhoyono (2004-sekarang)

Namun, ada dua nama presiden yang dilupakan oleh sejarah Indonesia. Nama-nama yang terlupakan begitu saja itu, adalah Sjafruddin Prawiranegara yang menjabat presiden pada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), dari tanggal 22 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949, dan Mr. Assaat yang memangku sementara jabatan Presiden Republik Indonesia (RI) pada periode 27 Desember 1949 hingga 15 Agustus 1950, setelah Konferensi Meja Bundar (KMB).

Dua nama Presiden tersebut merupakan nama yang tak tercatat di dalam sejarah Indonesia, mungkin karena alpa, tetapi mungkin juga disengaja dengan alasan-alasan tertentu.

Sjafruddin Prawiranegara, Presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), periode 22 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949


Sjafruddin Prawiranegara
Sjafruddin Prawiranegara pernah menjabat sebagai Presiden yang merangkap menteri pertahanan, penerangan, dan luar negeri ad interim pada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), yang dibentuk untuk menyelamatkan pemerintahan RI.

Saat itu, Belanda baru saja melancarkan agresi militer ke-2, pada 19 Desember 1948, di Ibukota RI yang saat itu berkedudukan di Yogyakarta. Belanda pun menahan Presiden dan Wakil Presiden RI saat itu, Soekarno-Hatta.

Di sela-sela penangkapan itu, Soekarno mengirim telegram kepada Sjafruddin yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran RI, dan tengah berada di Bukittinggi, Sumatera Barat. Kepada Sjafruddin, Soekarno meminta agar dibentuk pemerintahan darurat di Sumatera, jika pemerintah tidak dapat menjalankan kewajibannya lagi.

Sjafruddin dan tokoh-tokoh bangsa lainnya di Sumatera kemudian membentuk PDRI, untuk menyelamatkan negara yang berada dalam keadaan berbahaya akibat kekosongan posisi kepala pemerintahan (Vacuum Of Power). Karena, posisi itu menjadi salah satu syarat internasional untuk di akui sebagai negara di dunia. PDRI pun diproklamirkan 22 Desember 1948 di Desa Halaman, sekitar 15 Kilometer dari Payakumbuh.

Jabatan Presiden merangkap menteri pertahanan, penerangan, dan luar negeri ad interim yang di isi Sjafruddin, kemudian berakhir setelah dia menyerahkan kembali mandatnya kepada Soekarno yang kembali ke Yogyakarta pada 13 Juli 1949. Riwayat PDRI pun berakhir.


Mr. Assaat, Pemangku Sementara Jabatan Presiden Republik Indonesia (RI), periode 27 Desember 1949 hingga 15 Agustus 1950.


Mr. Assaat
Sekitar tahun 1946-1949, di Jalan Malioboro, Yogyakarta, sering terlihat seorang berbadan kurus semampai berpakaian sederhana sesuai dengan irama revolusi. Terkadang ia berjalan kaki, kalau tidak bersepeda menelusuri Malioboro menuju ke kantor KNIP tempatnya bertugas. Orang ini tidak lain adalah Mr. Assaat, yang selalu menunjukkan sikap sederhana berwajah cerah di balik kulitnya yang kehitam-hitaman. Walaupun usianya saat itu baru 40 tahun, terlihat rambutnya mulai memutih. Kepalanya tidak pernah lepas dari peci beludru hitam.

Mungkin generasi muda sekarang kurang atau sedikit sekali mengenal perjuangan Mr. Assaat sebagai salah seorang patriot demokrat yang tidak kecil andilnya bagi menegakkan serta mempertahankan Republik Indonesia. Assaat adalah seorang yang setia memikul tanggung jawab, baik selama revolusi berlangsung hingga pada tahap akhir penyelesaian revolusi. Pada masa-masa kritis itu, Assaat tetap memperlihatkan dedikasi yang luar biasa.

Mr. Assaat pernah dipercaya menjabat Pemangku sementara jabatan Presiden Republik Indonesia (RI), pada periode 27 Desember 1949 hingga 15 Agustus 1950. Jabatan itu diamanatkan kepada Mr. Assaat, setelah perjanjian KMB 27 Desember 1949 memerintahkan pemerintah Belanda menyerahkan kedaulatan Indonesia kepada pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS).

RIS merupakan negara serikat yang terdiri dari 16 negara bagian, salah satunya adalah Republik Indonesia (RI), yang saat itu dipimpin pemangku sementara jabatan Presiden, Mr Assaad. Jabatan itu diisi Mr. Assaat, karena Soekarno dan Hatta ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden RIS, akibatnya pimpinan RI kosong.

Peran Mr. Assaat saat itu sangat penting, karena jika RI tanpa pimpinan, berarti ada kekosongan kekuasaan (Vacuum Of Power) dalam sejarah Indonesia. Jabatan Mr. Assaat sebagai pemangku sementara jabatan Presiden RI, berakhir setelah Belanda dan dunia internasional mengakui kembali kedaulatan RI.

RIS dilebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), pada 15 Agustus 1950. Soekarno dan Hatta kembali ditetapkan menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI, sementara jabatan Mr. Assaat sebagai pemangku sementara jabatan Presiden RI dinyatakan berakhir.

Selama memangku jabatan, Assaat menandatangani statuta pendirian Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. "Menghilangkan Assaat dari realitas sejarah kepresidenan Republik Indonesia sama saja dengan tidak mengakui Universitas Gadjah Mada sebagai universitas negeri pertama yang didirikan oleh Republik Indonesia," ujar Bambang Purwanto dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar UGM September 2004.

Ketika menjadi Penjabat Presiden, pers memberitakan tentang pribadinya, antara lain beliau tidak mau dipanggil Paduka Yang Mulia, cukup dengan panggilan Saudara Acting Presiden. Panggilan demikian memang agak canggung di zaman itu. Akhirnya Assaat bilang, panggil saja saya "Bung Presiden". Di sinilah letak kesederhanaan Assaat sebagai seorang pemimpin.

Hal itu tergambar pula dengan ketaatannya melaksanakan perintah agama, yang tak pernah meninggalkan shalat lima waktu. Dan dia termasuk seorang pemimpin yang sangat menghargai waktu, sama halnya dengan Bung Hatta.
Demikian sejarah 2 presiden RI yang dilupakan tersebut, semoga kita selalu mengingat, bahwa kita memiliki 2 orang presiden yang sangat berjasa saat itu, meskipun hanya bersifat sementara, namun keberadaan dan peran mereka sangatlah penting.